Judul : Barcode DNA Edelweis (Anaphalis javanica)
Berdasarkan Gen maTK
Penulis
: Muzakir Rahalus, Maureen Kumaunang, Audy Wuntu, Julius Pontoh
Alamat
: Jurusan Kimia, FMIPA, Unsrat, Manado
Sumber
: Rahalus,Muzakir, dkk. (2015). “Barcode DNA Edelweis (Anaphalis javanica) Berdasarkan
Gen maTK”. Jurnal MIPA UNSRAT Online.4
(2), 131-136.
Abstrak
DNA
barcode merupakan metode identifikasi organisme hidup dengan menggunakan urutan
DNA pendek (± 500 pasang basa). Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh
barcode DNA Edelweis dan menganalisis kemiripan gen matK Edelweis (Anaphalis
javanica) dengan kerabat terdekatnya. Isolasi DNA total Edelweis berhasil
dilakukan dengan menggunakan manual prosedur dari InnuPrep Plant DNA Kit yang
dimodifikasi. Gen matK parsial telah diisolasi dengan metode Polymerase Chain
Reaction (PCR) menggunakan Primer forward matK-1RKIM-f dan Primer Reverse
matK-3FKIM-r. Hasil analisis sekuens menghasilkan barcode DNA edelweis
berukuran 843 bp. Hasil analisis kemiripan menunjukkan tingkat kekerabatan
terdekat dengan A. margaritaceae yaitu 99.86% pada BOLD System dan 100 % pada NCBI.
Kata kunci
: edelweis, matK, barcode DNA, analisis kekerabatan
Anaphalis javanica,
dikenal secara populer sebagai Edelweis jawa (Javanese edelweiss) atau Bunga
Senduro yang biasanya hidup di pegunungan dengan ketinggian antara 1.600-3.600
mdpl. Ekstrak eldeweis ini sangat berguna bagi kesehatan manusia, seperti obat
penyakit disentri, diare dan TBC serta anti penuaan karena mengandung
antioksidan dan antimikroba. Akan tetapi, banyak pendaki yang mengambil bunga
ini tanpa memperhatikan kelestariannya sehingga dikhawatirkan bunga ini akan
punah. Sebagai langkah awal agar dapat menumbuhkan, mengembangkan, dan
merekayasa secara genetik edelweis sebagai tanaman kesehatan produktif, maka
diperlukan teknik molekuler, salah satunya Polymerase Chain Reaction (PCR)
dimana membutuhkan DNA dengan jumlah yang cukup dan kualitas yang baik. Oleh
karena itu, dibutuhkan prosedur isolasi yang optimum agar diperoleh DNA genom
yang dapat digunakan sebagai bahan dalam analisis molekuler. Salah satu
aplikasi analisis molekuler adalah dalam penentuan spesies mahluk hidup. Metode
identifikasi spesies makhluk hidup sudah berkembang sampai pada identifikasi
molekuler berdasarkan potongan DNA pendek yang disebut’’barcode DNA” yang
berfungsi sebagai konfirmasi sampel-sampel tanaman obat. Barcode DNA ini
menggunakan sekuens DNA dari gen maturase K (matK) yang terdapat dalam
kloroplas sebagai gen standar.
Metode
:
a)
Isolasi
DNA
Isolasi DNA total edelweis
dilakukan berdasarkan prosedur manual InnuPrep Plant DNA Kit yang dimodifikasi.
Sampel ederwis yang telah digerus melalui serangkaian tahap dari inversi,
inkubasi, ditambahkan berbagai bahan penunjang kemudian disentrifugasi dimana
akan menghasilkan larutan DNA yang akan disimpan dalam freezer.
b)
Amplifikasi
matK Edelweis menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR)
PCR master mix dibuat dengan
menggunakan GoTaq®Green Master Mix (Promega). Mesin PCR direaksikan dengan
berbagai komponen atau bahan kemudian mengalami siklus amplifikasi yang terdiri
dari tahap denaturasi, penempelan primer, dan polimerase. Hasil PCR kemudian
dielektroforesis dan ditentukan urutan nukleotidanya. Hasil PCR dikirim ke
Malaysia (First Base Pte.) untuk dilakukan proses pengurutan nukleotida
(sekuensing).
c)
Elektroforesis
agarosa
Elektroforesis
dilakukan untuk melihat keberhasilan proses PCR. Setelah melalui serangkaian
tahap mulai dari pemanasan, pendinginan, serta penambahan bahan tertentu, gel
agarosa diletakkan dalam alat elektroforesis kemudian ditambahkan dengan hasil
PCR. Hasil elektroforesis divisualisasikan menggunakan UV-Transiluminator pada
panjang gelombang λ = 312 nm dan didokumentasikan.
d)
Analisis
Hasil
Kromatogram DNA hasil sekuensing
disunting menggunakan software Geneious v5.6. Hasil sekuensing yang menggunakan
primer reverse dilakukan proses reverse and complement kemudian dipadukan
dengan hasil sekuensing primer forward menggunakan Multiple Sequence Comparison
by Log-Expectation (MUSCLE). Keakuratan amplifikasi gen target diuji dengan
memprediksi urutan asam amino berdasarkan sekuens matK untuk melihat adanya
kodon stop di tengah sekuens gen-gen aktif tersebut sehingga diketahui pasti
bahwa yang teramplifikasi bukan gen semu (pseudo gen). Potongan gen matK
diidentifikasi lewat Barcode of Life Database (BOLD) system. Selanjutnya
dilakukan analisis kekerabatan edelweis (A. javanica) menggunakan program
BLASTn pada National Center for Biotechnology Information (NCBI)
Hasil
dan Pembahasan
a)
Isolasi
DNA dan Amplifikasi matK Edelweis
Isolasi DNA total
edelweis dilakukan untuk memperoleh templat DNA dalam proses amplifikasi gen
matK edelweis. Proses PCR telah berhasil mengamplifikasi matK edelweis yang
ditunjukkan melalui hasil elektroforesis seperti dalam Gambar 1. Hasil
elektroforesis menunjukkan adanya pita DNA yang jelas dan tebal sebagai bukti
keberhasilan amplifikasi matK. Hasil PCR ini selanjutnya disekuensing untuk
mengetahui urutan nukleotida matK edelweis.
Gambar
1.
Elektroforegram pita DNA hasil elektroforesis (S: sampel, M: marker DNA ladder)
b)
Analisis
Urutan Nukleotida matK dan Penentuan Barcode DNA Edelweis
Panjang hasil
sekuensing (pengurutan) DNA edelweis (A. javanica) dari matK forward adalah 868
bp, sedangkan matK reverse setelah pembalikan 867 bp. Penjajaran antara matK
forward dan matK reverse 901 bp. Hasil sekuens yang telah dipotong ± 30 bp pada
awal dan akhir untai DNA, menghasilkan sekuens baru (Gambar 2).
Pengujian terhadap asam
amino pengkode dari sekuens DNA kloroplas ini menunjukkan tidak adanya kodon
stop di tengah-tengah sekuens. Hal ini membuktikan bahwa hasil amplifikasi DNA
yang dilakukan sudah valid. Pembacaan gen matK menggunakan frame 3 yaitu
pembacaan dimulai dari asam amino yang ketiga.
Gambar 2. Sekuens barcode DNA matK dan Asam Amino A.
Javanica
c)
Analisis
Hubungan Kekerabatan Edelweis
Berdasarkan hasil
penelusuran BOLD System, terdapat 99 jenis urutan nukleotida yang mempunyai
kemiripan dengan A. javanica yang terurut dari rank pertama (1) sampai rank ke
(99) sesuai panjang sekuens pasangan basa. Hasil penelusuran juga tidak
ditemukan kemiripan sampai 100% (identik). Keseluruhan 99 nukleotida matK
berbagai organisme yang berhasil dideteksi melalui BOLD System memilki variasi
tingkat kemiripan. Beberapa organisme memiliki tingkat kemiripan yang tinggi,
yaitu > 99 % walaupun dari genus yang berbeda, namun masih berada dalam satu
famili Asteraceae. Spesies yang kemiripannya sangat tinggi dan masih satu genus
dengan A. javanica yaitu A. margaritaceae dengan tingkat kemiripan 99,88 %
dengan panjang sekuens 817 bp (dapat dilihat di rank ke 11 pada Gambar 3, yang
diberi kotak).
Gambar 3. Penelusuran BOLD system
untuk sekuens matK Edelweis (A. javanica)
Berdasarkan hasil
analisis BLASTn (Basic Local Alignment Search Tool – nucleotida), ditemukan
bahwa matK A. javanica memiliki kemiripan terdekat dengan A. margaritaceae
sebesar 99% (Gambar 4, urutan pertama), sehingga memperkuat hasil analisis BOLD
System. Kemiripan ini juga diperkuat dengan melihat pohon kekerabatan A.
javanica yang berada satu root dengan A. margaritacea (Gambar 5).
Gambar 4. Hasil analisis BLASTn
matK A. Javanica
Gambar 5. Pohon kekerabatan A.
Javanica
Kesimpulan
Barcode DNA Edelweis (Anaphalis javanica) telah diperoleh
dengan panjang sekuens 843 pb berdasarkan gen matK. Hasil analisis kekerabatan
menunjukkan bahwa Edelweis (A. javanica) memiliki kerabat terdekat dengan A.
margaritacea, dengan tingkat kemiripan 99%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar